Kalau perusahaan Anda sudah bertahun-tahun menjalankan infrastruktur di VMware dan selama ini sudah stabil, apakah migration memang harus berarti meninggalkan VMware sepenuhnya?
Pertimbangan ini membuat migrasi VMware ke AWS menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur.
AWS sendiri menyediakan beberapa pilihan untuk workload VMware, mulai dari melakukan rehost ke Amazon EC2, melakukan modernisasi menggunakan layanan AWS, hingga menjalankan VMware Cloud Foundation di AWS melalui Amazon Elastic VMware Service (Amazon EVS).
Karena itu, sebelum menentukan teknologi yang digunakan, perusahaan perlu memahami workload yang dimiliki dan tujuan migrasinya terlebih dahulu.
Daftar Isi
Kenapa Perusahaan Mempertimbangkan Migrasi VMware ke AWS?
VMware telah lama digunakan sebagai fondasi virtualisasi perusahaan. Banyak perusahaan menjalankan aplikasi, database, development environment, hingga workload yang kritis bagi bisnis di atasnya.
Namun dengan kebutuhan infrastruktur yang berubah, perusahaan kini membutuhkan infrastruktur yang dapat:
- Menyesuaikan kapasitas sesuai kebutuhan
- Mendukung workload yang semakin beragam
- Terintegrasi dengan layanan cloud
- Meningkatkan ketahanan infrastruktur
- Mendukung analitik data dan AI
- Mengurangi beban operasional
- Memberikan fleksibilitas untuk melakukan modernisasi
Di saat yang sama, perubahan model lisensi dan arah ekosistem VMware juga menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan mengevaluasi kembali strategi virtualisasi dan infrastrukturnya.
Apa Saja Pilihan Migrasi VMware ke AWS?
Salah satu kesalahan yang cukup umum adalah menganggap semua VMware workload harus menggunakan pendekatan yang sama. Padahal, AWS menyediakan beberapa pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing workload.
1. Rehost ke Amazon EC2
Pendekatan ini sering disebut sebagai lift and shift. Workload VMware dipindahkan ke Amazon EC2 dengan perubahan seminimal mungkin pada arsitektur aplikasi.
Pendekatan ini dapat dipertimbangkan ketika perusahaan:
- Ingin melakukan migrasi lebih cepat
- Belum siap melakukan perubahan besar pada aplikasi
- Memiliki banyak workload lama
- Ingin memindahkan infrastruktur terlebih dahulu sebelum melakukan modernisasi
AWS Transform dapat membantu proses seperti discovery, perencanaan migrasi, pemetaan dependency, migration waves, network migration, testing, hingga rehost server ke Amazon EC2.
2. Replatform ke Layanan AWS
Pada pendekatan ini, workload tetap dipindahkan, tetapi beberapa komponennya diubah agar lebih sesuai dengan layanan AWS. Contohnya, aplikasi dapat menggunakan layanan AWS yang terkelola untuk mengurangi kebutuhan perusahaan dalam mengelola komponen infrastruktur tertentu secara langsung.
Tujuannya adalah mendapatkan lebih banyak manfaat dari cloud tanpa harus melakukan perubahan arsitektur secara menyeluruh. Pendekatan ini dapat menjadi pilihan ketika perusahaan ingin melampaui sekadar memindahkan VM, tetapi belum membutuhkan perubahan aplikasi secara besar-besaran.
3. Modernisasi atau Refactor
Untuk workload tertentu, migrasi dapat menjadi kesempatan untuk melakukan modernisasi. Misalnya:
- Database dipindahkan ke layanan database terkelola
- Aplikasi dipindahkan ke container
- Arsitektur diubah agar lebih mudah ditingkatkan skalanya
- Komponen tertentu menggunakan layanan serverless
Pendekatan ini membutuhkan usaha yang lebih besar dibandingkan rehost atau replatform. Karena itu, tidak semua workload perlu dimodernisasi sekaligus. Workload yang memiliki nilai bisnis tinggi atau membutuhkan skalabilitas, kelincahan, dan ketahanan lebih besar dapat diprioritaskan terlebih dahulu.
4. Mempertahankan VMware di AWS
Ada kondisi ketika perusahaan ingin mendapatkan manfaat AWS tetapi masih membutuhkan lingkungan dan teknologi VMware.
Untuk kebutuhan seperti ini, AWS menyediakan Amazon Elastic VMware Service (Amazon EVS), yang memungkinkan VMware Cloud Foundation berjalan langsung pada EC2 bare metal di dalam Amazon VPC. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mempertahankan VMware architecture di AWS tanpa harus melakukan perubahan workload seperti pada migrasi ke native AWS services.
Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Migrasi VMware ke AWS
Kita sudah melihat beberapa pilihan migrasi dari VMware ke AWS. Selanjutnya, perusahaan perlu memahami apa saja yang perlu disiapkan sebelum menentukan migration pathway dan memulai proses migrasi.
1. Buat Inventaris Seluruh VMware Workload
Mulailah dengan mengetahui apa yang sebenarnya berjalan di lingkungan saat ini. Anda dapat mencatat:
- VM
- vCPU
- Memori
- Storage
- Sistem operasi
- Aplikasi
- Database
- Network
- IP
- Dependency
- Pemakaian resource
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan architecture tujuan. Tanpa inventaris yang jelas, perusahaan akan sulit mengetahui workload mana yang perlu dipindahkan, dimodernisasi, dipertahankan, atau bahkan sudah tidak diperlukan.
2. Petakan Dependency Antar-Workload
Setelah mengetahui workload yang dimiliki, langkah berikutnya adalah memahami bagaimana workload tersebut saling terhubung.
Satu aplikasi mungkin bergantung pada database tertentu, terhubung ke application server lain, menggunakan shared storage, atau membutuhkan koneksi ke sistem yang masih berada di data center. Dependency seperti ini perlu dipetakan sebelum menentukan urutan migrasi.
AWS Transform juga menggunakan informasi inventory dan dependency untuk membantu mengelompokkan aplikasi serta menyusun migration waves.
3. Tentukan Migration Pathway untuk Setiap Workload
Tidak semua workload harus menggunakan strategi yang sama. Setelah inventory dan dependency dipahami, perusahaan dapat menentukan apakah workload akan di-rehost, di-replatform, dimodernisasi, dipertahankan di VMware melalui Amazon EVS, atau bahkan tidak perlu dipindahkan.
Pendekatan ini membuat migrasi lebih terarah karena keputusan tidak hanya didasarkan pada teknologi, tetapi juga kondisi dan kebutuhan masing-masing workload.
4. Siapkan Target Architecture di AWS
Sebelum workload dipindahkan, perusahaan perlu menentukan seperti apa environment AWS yang akan menjadi tujuan migrasi.
Hal yang perlu diperhatikan mencakup struktur account, network, VPC, subnet, security group, connectivity, IAM, logging, monitoring, backup, dan kebutuhan keamanan lainnya. Jika perusahaan memiliki banyak workload, desain landing zone dan struktur account juga perlu dipertimbangkan sejak awal.
Target architecture sebaiknya tidak hanya meniru environment VMware yang sudah ada. Jika perusahaan memang ingin memanfaatkan kemampuan AWS, migration project dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki bagian infrastructure yang sebelumnya memiliki keterbatasan.
5. Periksa Network dan Security
Network connectivity menjadi salah satu bagian penting karena selama proses migrasi, environment VMware dan AWS biasanya perlu berkomunikasi.
Perusahaan perlu menentukan bagaimana koneksi antara kedua environment dibangun, bagaimana traffic diarahkan, serta bagaimana security control diterapkan. AWS Transform juga menyediakan workflow untuk membantu memetakan konfigurasi network sumber ke architecture AWS seperti VPC, subnet, dan security group.
Di sisi security, pastikan access control, IAM, encryption, logging, dan security configuration sudah disiapkan sebelum workload masuk ke production.
6. Tentukan RTO, RPO, dan Kebutuhan Downtime
Tidak semua workload memiliki toleransi downtime yang sama. Aplikasi internal mungkin dapat dihentikan sementara, sementara aplikasi yang mendukung transaksi bisnis membutuhkan downtime yang jauh lebih terbatas.
Karena itu, perusahaan perlu menentukan Recovery Time Objective (RTO), Recovery Point Objective (RPO), serta target downtime sebelum migration wave dijalankan. Parameter ini kemudian dapat digunakan untuk menentukan metode migrasi, jadwal cutover, dan kebutuhan testing.
7. Lakukan Testing Sebelum Cutover
Workload yang sudah berhasil dipindahkan belum berarti migrasi selesai. Perusahaan perlu memastikan aplikasi dapat berjalan dengan benar di environment AWS sebelum production cutover.
Testing dapat mencakup konektivitas, application functionality, database, performance, security, integration, serta proses backup dan recovery. Untuk rehost menggunakan AWS Transform, misalnya, workload dapat diluncurkan sebagai test instance sebelum final cutover dilakukan.
8. Rencanakan Migration Wave dan Cutover
Memindahkan seluruh workload sekaligus dapat meningkatkan risiko karena dependency antar-sistem membuat satu masalah berpotensi memengaruhi workload lainnya.
Karena itu, workload sebaiknya dikelompokkan ke dalam beberapa migration wave berdasarkan dependency, criticality, kompleksitas, dan kebutuhan bisnis. Mulai dari workload yang lebih sederhana dapat membantu tim memahami proses sebelum masuk ke workload yang lebih kritis.
Saat cutover, perusahaan juga perlu menentukan siapa yang bertanggung jawab, kapan proses dilakukan, bagaimana validasi dilakukan, dan apa langkah yang harus diambil jika hasil migrasi tidak sesuai rencana.
Apakah Semua VMware Workload Harus Dipindahkan ke Amazon EC2?
Rehost ke Amazon EC2 memang menjadi salah satu pilihan, tetapi keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi workload. AWS sendiri menyediakan beberapa migration strategy, termasuk rehost, replatform, refactor, retain, retire, dan relocate.
Misalnya, workload legacy yang sulit diubah dapat lebih sesuai untuk rehost. Sementara itu, aplikasi yang membutuhkan scalability tinggi dapat menjadi kandidat untuk modernisasi. Workload yang masih sangat bergantung pada VMware juga dapat dipertimbangkan untuk Amazon EVS.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak perlu memperlakukan seluruh VM sebagai satu kelompok besar. Setiap workload dapat dinilai berdasarkan business criticality, technical dependency, effort, dan target jangka panjangnya.
Kapan Perusahaan Membutuhkan Migration Partner?
Migrasi VMware ke AWS dapat menjadi kompleks ketika perusahaan memiliki ratusan workload, dependency yang saling terhubung, kebutuhan downtime yang terbatas, atau tim internal yang belum terbiasa dengan AWS.
Dalam kondisi seperti ini, migration partner dapat membantu mulai dari assessment, inventory, dependency mapping, migration planning, target architecture, hingga execution dan post-migration optimization.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya kemampuan memindahkan VM, tetapi juga kemampuan partner dalam memahami workload, AWS architecture, security, networking, testing, dan kebutuhan bisnis. Dengan begitu, migrasi tidak berhenti pada “server sudah pindah”, tetapi menghasilkan environment yang dapat mendukung kebutuhan operasional perusahaan setelah migration selesai.
Migrasi VMware ke AWS dengan Exabytes
Exabytes membantu perusahaan dalam proses migrasi dan pengelolaan environment AWS, mulai dari assessment dan perencanaan hingga implementasi dan pengelolaan setelah workload berjalan di AWS.
Pendekatan migrasi dapat disesuaikan dengan kondisi workload perusahaan, baik untuk kebutuhan rehost, modernisasi, maupun pengelolaan environment AWS setelah migrasi. Tim juga dapat membantu mengevaluasi architecture dan kebutuhan infrastructure agar migration plan tidak hanya berfokus pada proses pemindahan workload.
Jika perusahaan sedang mengevaluasi migrasi VMware ke AWS dan membutuhkan bantuan untuk menentukan migration strategy yang sesuai, Anda dapat berkonsultasi dengan tim Enterprise Exabytes.


















