Cloud sering dipilih karena perusahaan tidak perlu lagi membeli server setiap kali membutuhkan tambahan kapasitas. Namun, ada tantangan yang cukup umum dihadapi perusahaan, salah satunya adalah tagihan AWS yang terus meningkat.
Fleksibilitas cloud memang memungkinkan perusahaan menambah resource sesuai kebutuhan. Namun, fleksibilitas yang sama juga dapat membuat resource terus berjalan meskipun sudah tidak digunakan secara optimal.
Misalnya, ada EC2 instance yang ukurannya terlalu besar untuk workload yang dijalankan. Ada storage yang sudah tidak digunakan tetapi masih tersimpan. Atau, ada environment development dan testing yang tetap aktif 24 jam meskipun hanya digunakan pada jam kerja.
Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan berarti AWS terlalu mahal. Bisa jadi, resource cloud yang digunakan belum dikelola secara optimal. Di sinilah AWS Cost Optimization dibutuhkan.
Daftar Isi
Apa Itu AWS Cost Optimization?
AWS Cost Optimization adalah proses untuk mengelola dan mengoptimalkan penggunaan resource AWS agar perusahaan mendapatkan nilai yang sesuai dengan biaya cloud yang dikeluarkan. Tujuannya bukan sekadar membuat tagihan AWS menjadi lebih murah.
Perusahaan tetap perlu menjaga performa, availability, keamanan, dan kebutuhan bisnis. Mengurangi biaya dengan cara mematikan resource penting atau menurunkan kapasitas secara berlebihan justru dapat menimbulkan masalah baru. Karena itu, cost optimization lebih tepat dilihat sebagai upaya mencari keseimbangan antara biaya dan kebutuhan workload.
Penyebab Biaya AWS Terus Bertambah
Ada banyak faktor yang memengaruhi pengeluaran perusahaan untuk AWS. Salah satunya adalah workload yang terus bertumbuh. Ketika jumlah pengguna, transaksi, data, atau aplikasi bertambah, kebutuhan resource juga ikut meningkat. Namun, pertumbuhan workload bukanlah satu-satunya alasan kenaikan biaya.
Beberapa penyebab lainnya antara lain:
- resource yang kapasitasnya lebih besar dari kebutuhan;
- instance yang tetap berjalan meskipun jarang digunakan;
- storage dan snapshot yang tidak lagi diperlukan;
- environment development atau testing yang aktif terus-menerus;
- penggunaan data transfer yang tidak diperhatikan;
- resource yang dibuat untuk kebutuhan sementara tetapi tidak pernah dihapus;
- kurangnya monitoring terhadap penggunaan dan biaya; serta
- arsitektur cloud yang belum dioptimalkan.
Itulah sebabnya hanya melihat nominal tagihan saja belum cukup. Perusahaan perlu memahami resource mana yang menghasilkan biaya dan mengapa resource tersebut digunakan.
Bagaimana Cara Melakukan AWS Cost Optimization?
Ada beberapa area yang dapat diperiksa ketika perusahaan ingin mulai mengoptimalkan biaya AWS.
1. Memahami Penggunaan Resource
Sebelum mengurangi resource apa pun, perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana resource tersebut digunakan. Misalnya, sebuah EC2 instance memiliki kapasitas CPU dan memory yang cukup besar. Namun, setelah melihat pola penggunaannya, ternyata resource tersebut hampir selalu berada pada tingkat penggunaan yang rendah.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dapat mengevaluasi apakah instance tersebut memang membutuhkan kapasitas sebesar itu. Hal yang sama juga berlaku untuk storage, database, network, dan layanan AWS lainnya.
2. Sesuaikan Ukuran Resource dengan Kebutuhan
Salah satu pendekatan yang umum dalam cost optimization adalah rightsizing.
Rightsizing berarti menyesuaikan resource yang digunakan dengan kebutuhan workload sebenarnya. Contohnya, jika workload secara konsisten menggunakan resource yang jauh di bawah kapasitas yang tersedia, perusahaan dapat mempertimbangkan instance dengan ukuran yang lebih sesuai.
Sebaliknya, jika resource terus berada pada kapasitas tinggi dan aplikasi mulai mengalami bottleneck, menambah resource mungkin justru diperlukan.
Jadi, rightsizing bukan selalu berarti mengecilkan server. Tujuannya adalah menggunakan kapasitas yang tepat untuk workload yang dijalankan.
3. Evaluasi Resource yang Tidak Lagi Dibutuhkan
Resource yang sudah tidak digunakan tetap dapat menghasilkan biaya jika masih aktif atau masih menyimpan data. Contohnya:
- EC2 instance yang sudah tidak digunakan;
- EBS volume yang tidak lagi terhubung;
- snapshot lama;
- load balancer yang tidak lagi diperlukan;
- IP address tertentu; atau
- environment testing yang sudah tidak digunakan.
Melakukan evaluasi secara berkala dapat membantu perusahaan mengidentifikasi resource yang tidak lagi memberikan nilai bagi workload.
4. Kelola Environment Development dan Testing
Tidak semua workload harus aktif 24 jam. Environment development, staging, atau testing, misalnya, mungkin hanya digunakan pada jam kerja. Jika tetap aktif sepanjang hari, perusahaan membayar resource selama periode ketika resource tersebut tidak digunakan.
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah menjadwalkan resource agar aktif dan nonaktif sesuai kebutuhan. Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan dependency antar sistem. Jangan sampai satu resource dimatikan sementara aplikasi lain masih membutuhkannya.
5. Pilih Model Pembelian AWS yang Sesuai
AWS menyediakan beberapa model pricing yang dapat dipertimbangkan sesuai karakteristik workload. Untuk workload yang stabil dan dapat diprediksi, perusahaan dapat mengevaluasi opsi seperti Reserved Instances atau Savings Plans.
Sementara itu, untuk workload yang sifatnya sementara atau sulit diprediksi, model penggunaan yang lebih fleksibel mungkin lebih sesuai.
Tidak ada satu model pricing yang otomatis paling tepat untuk semua workload. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- apakah workload berjalan secara konsisten;
- berapa lama resource akan digunakan;
- seberapa mudah kebutuhan kapasitas berubah; dan
- seberapa besar fleksibilitas yang masih dibutuhkan.
6. Perhatikan Storage dan Data Transfer
Compute bukanlah satu-satunya sumber biaya di AWS. Storage dan data transfer juga perlu diperhatikan, terutama ketika perusahaan menyimpan data dalam jumlah besar atau memiliki aplikasi yang sering memindahkan data antar-environment.
Perusahaan dapat mengevaluasi apakah data yang disimpan masih aktif digunakan atau sudah jarang diakses. Data yang memiliki pola akses berbeda dapat membutuhkan pendekatan storage yang berbeda pula.
Begitu juga dengan data transfer. Arsitektur aplikasi perlu diperiksa untuk mengetahui apakah ada perpindahan data yang sebenarnya dapat dikurangi atau dioptimalkan.
7. Gunakan Tagging dan Cost Allocation
Ketika satu akun AWS digunakan oleh banyak tim, aplikasi, atau project, sulit mengetahui siapa yang sebenarnya menghasilkan biaya terbesar tanpa struktur yang jelas. Karena itu, perusahaan dapat menggunakan tagging untuk mengelompokkan resource berdasarkan kebutuhan seperti:
- department;
- project;
- aplikasi;
- environment;
- customer; atau
- cost center.
Dengan struktur tersebut, tim finance maupun IT dapat melihat biaya dengan konteks yang lebih jelas. Ini juga membantu ketika perusahaan ingin menentukan budget dan melakukan cost allocation antar-tim atau unit bisnis.
8. Lakukan Monitoring Secara Berkala
Workload dapat berubah, jumlah pengguna dapat bertambah, aplikasi baru dapat dibuat, dan resource baru dapat ditambahkan. Artinya, konfigurasi yang efisien bulan ini belum tentu tetap efisien beberapa bulan kemudian.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan monitoring secara berkala terhadap:
- penggunaan resource;
- perubahan biaya;
- pola penggunaan;
- budget; dan
- anomali pada billing.
Monitoring juga membantu perusahaan mengetahui ketika biaya tiba-tiba meningkat sehingga penyebabnya dapat segera ditelusuri.
Apakah Menghemat AWS Berarti Harus Mengurangi Resource?
Menghemat AWS tidak selalu berarti mengurangi resource. Misalnya, sebuah aplikasi membutuhkan kapasitas tertentu agar tetap mampu menangani traffic pada jam sibuk. Menurunkan resource terlalu jauh memang dapat mengurangi tagihan, tetapi jika performa aplikasi ikut turun, penghematan tersebut belum tentu memberikan nilai bisnis yang lebih baik.
Begitu juga dengan availability. Perusahaan mungkin dapat menghemat biaya dengan mengurangi redundancy, tetapi keputusan tersebut harus mempertimbangkan dampaknya terhadap reliability dan kebutuhan bisnis.
Karena itu, cost optimization sebaiknya dilakukan bersama dengan evaluasi performance, security, reliability, dan operational requirements.
AWS sendiri menempatkan Cost Optimization sebagai salah satu dari enam pilar dalam AWS Well-Architected Framework, bersama Operational Excellence, Security, Reliability, Performance Efficiency, dan Sustainability. Exabytes juga menyediakan AWS Well-Architected Framework Review yang mencakup evaluasi terhadap biaya, performa, keamanan, dan ketahanan infrastruktur AWS.
Kapan Perusahaan Membutuhkan AWS Cost Optimization?
Perusahaan tidak perlu menunggu sampai tagihan AWS menjadi masalah besar. Cost optimization sebaiknya mulai diperhatikan ketika:
- penggunaan AWS sudah semakin kompleks;
- jumlah akun atau workload semakin banyak;
- biaya cloud sulit diprediksi;
- perusahaan tidak mengetahui resource mana yang paling banyak menghasilkan biaya;
- terdapat banyak environment development dan testing;
- workload mengalami perubahan penggunaan secara signifikan; atau
- tim IT tidak memiliki waktu untuk melakukan review cloud secara rutin.
Semakin besar lingkungan cloud, semakin sulit melakukan optimasi hanya dengan melihat billing secara manual.
Kelola Biaya Cloud Perusahaan dengan Managed AWS Exabytes
Mengoptimalkan biaya AWS membutuhkan pemahaman terhadap arsitektur, pola penggunaan resource, dan kebutuhan aplikasi. Karena itu, perusahaan dengan lingkungan AWS yang kompleks dapat mempertimbangkan bantuan managed service provider.
Dalam layanan Managed AWS, Exabytes membantu perusahaan mulai dari merancang dan mengimplementasikan environment AWS hingga melakukan migrasi, pengelolaan, monitoring, dan optimasi secara berkelanjutan. Tim juga memantau penggunaan resource dan performa cloud untuk membantu mengoptimalkan konfigurasi sesuai kebutuhan workload.
Exabytes juga menyediakan layanan untuk menganalisis arsitektur platform cloud dan pola penggunaan, kemudian memberikan rekomendasi pengurangan biaya tanpa mengganggu operasional bisnis.
Pendekatan seperti ini dapat membantu perusahaan melihat cloud bukan hanya sebagai biaya infrastructure, tetapi sebagai lingkungan yang perlu terus dikelola dan dioptimalkan.
Ingin mengetahui apakah penggunaan AWS perusahaan Anda masih bisa dioptimalkan? Konsultasikan environment AWS dan kebutuhan workload Anda dengan tim Enterprise Exabytes.


















