Ulasan Exabytes Digital Day On Air: Tips To Sustain Your Online Business During The Crisis

119
7 min read

Hello Exabytes Friends!

Mewabahnya penyebaran virus Corona telah memberi dampak besar pada banyak sektor usaha, diantaranya sektor industri restoran, kecantikan, dan pakaian. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan pola perilaku konsumen yang lebih berhati-hati dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga mereka cenderung memilih belanja online daripada offline. Akibatnya, bisnis berbasis online pun meningkat. 

Dalam menghadapi tantangan persaingan bisnis online, pelaku bisnis dituntut untuk selalu inovatif dan adaptif dalam menjalankan usahanya. Sebagai bentuk dukungan pada pelaku bisnis, Exabytes menyelenggarakan webinar bertajuk Exabytes Digital On Air: Tips To Sustain Your Business Online During The Crisis pada hari Rabu (6/5/20) lalu.

Webinar ini mengundang dua pengusaha muda Indonesia yang tak lagi asing di telinga millenial, yaitu  Lizzie Parra selaku founder & CMO BLP Beauty dan Monica Amadea selaku founder & CEO Monomolly. Atas pengalaman sukses berkecimpung di industri kosmetik dan pakaian, keduanya membagikan rahasia kreatif mempertahankan usaha online di tengah krisis pandemi COVID-19.

Lalu, apa saja topik-topik yang dibahas pada webinar kemarin? Simak yuk, ulasannya pada artikel kali ini!

Menganalisis Perubahan Perilaku Konsumen

Seperti yang kita ketahui, pandemi COVID-19 telah mengubah banyak aspek kehidupan, terutama karena Work From Home (WFH) yang sudah jadi kebiasaan normal baru bagi banyak orang di seluruh dunia. Mulai dari waktu yang kini banyak dihabiskan di rumah, kegiatan yang banyak dilakukan secara online, sampai pola berpikir yang cenderung lebih berhati-hati dalam pengambilan setiap keputusan.

Perubahan kebiasaan mendadak ini juga membuat konsumen melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang baru. Monica Amadea dan Lizzie Parra setuju kalau konsumen saat ini lebih memprioritaskan kebutuhan dasar, seperti produk kesehatan, kebersihan, dan bahan makanan, daripada produk sekunder dan tersier lainnya. Konsumen juga lebih memperhatikan bagaimana dan di mana mereka berbelanja.

Hal ini berdampak besar bagi pelaku bisnis. Terbukti, ada beberapa sektor industri yang dulu jaya kini sudah jatuh, seperti sektor pariwisata, transportasi, dan perhotelan. Sebaliknya, ada pula sektor industri yang malah berkembang pesat. Untuk itu, setiap pelaku bisnis, terutama yang bergerak di sektor industri sekunder dan tersier wajib mengeksplorasi perubahan perilaku konsumen demi menghindari kejatuhan.

Menurut Monica Amadea, memahami dengan baik bagaimana konsumen bereaksi bisa membuat pelaku bisnis mudah untuk menghasilkan strategi pemasaran, produk, dan jasa yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Contohnya, ia sekarang aktif membuat campaign digital yang dapat diikuti konsumennya dari rumah karena ia tahu bahwa sebagian besar konsumennya menerapkan Work From Home (WFH). Jenis pakaian yang diproduksinya pun diprioritaskan pada jenis yang cocok untuk dipakai beraktivitas di dalam rumah.

Baca Juga  Mengulas Webinar Exabytes Digital Day On Air : How to Boost Sales with Facebook Ads

Lizzie Parra juga sadar betul imbas negatif yang ditemui pebisnis dari situasi pandemi ini mengingat toko offline-nya yang tak lagi efektif, campaign yang sulit berjalan, dan tentunya penjualan yang menurun. Karena itu, ia segera ambil cara jitu untuk menghadapi tantangan baru ini dengan menutup toko offline-nya untuk sementara dan menguatkan penjualan online melalui tambahan platform digital seperti Whatsapp Business.

Membangun Strategi Marketing yang Tepat

Selain memperhatikan perubahan pola pikir, perilaku, dan gaya hidup konsumen, pelaku bisnis juga perlu mempercepat transformasi digital. Hal ini dibutuhkan melihat adanya lonjakan penggunaan media sosial sejak pemerintah mendorong masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. 

Pemanfaatan platform digital dalam berbisnis juga semakin diandalkan konsumen, contohnya toko bahan makanan online Sayurbox dan TaniHub yang mendapat peningkatan penjualan dalam jumlah besar. Tren belanja online ini bahkan diyakini akan terus berlanjut sampai krisis pandemi berakhir. Tidak hanya platform toko online, platform pendidikan online seperti Ruangguru dan Zenius juga mengalami peningkatan jumlah pengguna.

Situasi ini tentunya memaksa, baik pelaku bisnis maupun konsumen, untuk mengadopsi dan beradaptasi dengan ekosistem digital baru. Pebisnis dapat meningkatkan brand awareness-nya dengan melakukan pemasaran di berbagai media sosial, seperti LinkedIn, Facebook, Instagram, Twitter, atau Snapchat. Menyediakan layanan melalui situs web pun akan semakin meningkat kepercayaan konsumen. Apa lagi, teknologi chatbot yang dapat ditambahkan sebagai salah satu fitur situs web dapat membuat operasional bisnis jadi lebih mudah.

Tapi, perlu diingat juga bahwa meluaskan pemasaran dengan kanal online tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan strategi marketing yang efektif mendongkrak perhatian. Pintar-pintar menyelaraskan narasi konten dan kampanye digital yang sesuai dengan situasi konsumen saat ini adalah jawabannya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami kekhawatiran konsumen di tengah pandemi. Lizzie Parra mengatakan “Caranya adalah dengan kita meng-adjust tone of voice kita untuk lebih mengerti perasaan mereka, perasaan customer-nya.” Artinya, posisikan diri sebagai teman atau manusia sebenarnya, dengan empati yang nyata, sehingga perasaan negatif yang mungkin dialami konsumen dapat berkurang dengan membaca konten atau mengikuti kampanye digital Anda. Tunjukan pula bagaimana bisnis Anda dapat membantu perasaan konsumen menjadi sedikit lebih baik.

Hal ini sangat penting karena strategi pemasaran yang menyangkut hubungan emosional, terutama dalam konteks pandemi, merupakan kunci sukses suatu bisnis meningkatkan brand awareness-nya.

Sebagai contoh, Lizzie Parra berusaha menggunakan narasi bahwa lipstik yang dijualnya akan meningkatkan mood sang konsumen sebagai salah satu cara mendekatkan brand kosmetiknya dengan emosi konsumen. Berbagai konten yang relevan pun ia ciptakan, seperti tips menjalani WFH dan tagar #LetsFaceIt untuk produk bedaknya yang baru. Selain itu, Lizzie Parra juga menyediakan promo gratis ongkos kirim agar pembeli tak perlu repot menanggungnya.

Sama halnya dengan yang dilakukan Lizzie Parra, Monica Amadea tak jarang membuat giveaway, challenge yang bisa dilakukan dari rumah, serta memproduksi produk fashion jenis homewear.

Membuat Skenario Bisnis

Tidak ada kepastian kapan wabah virus Corona akan berakhir – mungkin satu sampai dua bulan ke depan, enam bulan, atau bahkan tahun depan. Karena itu, setiap pelaku bisnis membutuhkan skenario bisnis atau contingency plan, yaitu seperangkat prosedur yang harus dilakukan jika operasi bisnis atau kesejahteraan karyawan terkena imbas negatif.

Baca Juga  Bisnis Itu Nggak Perlu Modal, Tapi Mindset [Podcast Eps. 1]

Skenario bisnis ini membantu pelaku bisnis untuk menetapkan bagaimana cara mempersiapkan segala dampak yang mungkin akan terjadi. Pebisnis pun akan lebih cepat tanggap akan hal yang seharusnya dilakukan saat ini, sehingga waktu pemulihan dan kerugian bisnis dapat diatasi dengan lebih mudah.

Sebagai bagian dari proses perencanaan, pelaku bisnis perlu melakukan beberapa hal berikut:

Membuat manajemen risiko

Perencanaan manajemen risiko meliputi pengidentifikasian risiko, imbas negatif risiko, dan strategi yang dapat dikembangkan untuk mengelola risiko.

Menganalisis dampak pandemi pada bisnis

Menganalisis dampak bisnis artinya mengeksplorasi bagaimana risiko yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi operasi bisnis nantinya, sehingga pelaku bisnis dapat memahami dengan baik apa saja yang penting diprioritaskan untuk menjaga kelangsungan bisnisnya.

Merencanakan tindakan

Merencanakan tindakan artinya mengurai segala hal, kegiatan, atau aktivitas yang wajib dilakukan untuk membatasi segala kerugian, baik selama pandemi maupun setelah pandemi.

Merencanakan pemulihan

Hal ini bertujuan untuk mempersingkat waktu pemulihan dan meminimalkan kerugian bisnis yang mungkin terjadi dengan membuat kerangka waktu kapan bisnis dapat beroperasi secara normal.

Menjaga Pikiran Positif

Menjalani bisnis di tengah krisis pandemi ini memang wajar menimbulkan rasa takut dan cemas akan kegagalan. Meski produktivitas tetap diutamakan, pelaku bisnis tidak harus setiap waktu memikirkan pekerjaan. Menurut Monica Amadea, memberi terlalu banyak tekanan pada diri sendiri justru akan menimbulkan stres dan menghilangkan fokus. 

Lizzie Parra membagikan tips untuk menjaga pikiran positif, seperti dengan meluangkan waktu untuk hobi dan meditasi. Ia juga menyarankan pelaku bisnis untuk membantu tim-nya tetap positif dengan berbagai cara. Sebagai contoh, menanyakan kabar, membuat diskusi harian yang tidak hanya membahas pekerjaan tapi juga tren terkini, dan melakukan bukber virtual. Selain dapat meningkatkan kebersamaan, kegiatan-kegiatan ini bisa jadi alat yang efektif untuk meningkatkan kreativitas.

Alih-alih menyalahkan keadaan, mari kreatif dan inovatif mempertahankan bisnis dengan menerapkan tips dan trik di atas. Manfaatkan kemajuan teknologi digital dengan lebih cerdas untuk membantu meningkatkan strategi marketing dan penjualan yang selaras dengan pola perilaku konsumen saat ini. 

Gimana Exabytes Friends? Seru kan topik-topik yang dibahas bersama Lizzie Parra dan Monica Amadea? Buat kamu yang ketinggalan webinar ini, bisa langsung di cek di Spotify Exabytes. Jangan ketinggalan info webinar seru dan positif lainnya dari Exabytes yang bisa kamu cek di website event Exabytes ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here