Colocation vs Hyperscale: Panduan Lengkap Memilih Data Center

3
Colocation VS Hyperscale
Colocation VS Hyperscale

Ketika kebutuhan komputasi, penyimpanan data, dan konektivitas bisnis semakin besar, pemilihan infrastruktur data center menjadi hal yang perlu diperhatikan. Colocation vs hyperscale merupakan dua istilah yang sering muncul ketika bisnis mulai mempertimbangkan cara mengelola server dan kebutuhan data dalam skala yang lebih besar.

Secara sederhana, colocation adalah model yang memungkinkan Anda menempatkan server milik sendiri di fasilitas data center yang dikelola oleh penyedia. Sementara itu, hyperscale merujuk pada arsitektur infrastruktur berskala sangat besar yang dirancang untuk menangani beban kerja dengan kapasitas tinggi dan dapat diperluas secara horizontal.

Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi bukan berarti Anda selalu harus memilih salah satunya. Memahami perbedaan colocation dan hyperscale dapat membantu Anda menentukan infrastruktur berdasarkan kebutuhan server, skalabilitas, kontrol perangkat, biaya, serta rencana pertumbuhan bisnis.

Apa Itu Colocation Data Center?

Colocation Data Centre
Colocation Data Centre

Colocation data center adalah fasilitas yang memungkinkan perusahaan menempatkan server dan perangkat IT miliknya di data center milik pihak lain. Dalam hal ini, perusahaan tetap memiliki perangkat keras yang digunakan, sedangkan penyedia menyediakan lingkungan pendukung seperti ruang server, listrik, pendinginan, konektivitas jaringan, serta keamanan fasilitas.

Dengan colocation, Anda tidak perlu membangun data center sendiri dari awal. Server dapat ditempatkan pada rak, cabinet, cage, atau ruang tertentu sesuai kebutuhan, sementara infrastruktur pendukung yang diperlukan untuk menjaga server tetap beroperasi disediakan oleh operator data center.

Layanan ini membuat tanggung jawab infrastruktur terbagi menjadi dua bagian. Perusahaan dapat berfokus pada server, sistem operasi, aplikasi, dan data yang digunakan, sedangkan operator data center menangani fasilitas fisik seperti daya listrik, pendinginan, konektivitas, dan keamanan lingkungan data center sesuai cakupan layanan.

Bagaimana Cara Kerja Colocation?

Cara kerja colocation dimulai dengan menentukan kebutuhan infrastruktur. Anda perlu memperhitungkan jumlah server, spesifikasi perangkat, kebutuhan daya listrik, konektivitas, kapasitas rak, serta kebutuhan pendinginan dan keamanan agar fasilitas yang dipilih mampu mendukung workload server.

Setelah kebutuhan ditentukan, server milik perusahaan ditempatkan di fasilitas colocation. Perangkat kemudian dipasang pada rack atau ruang yang telah disediakan dan dihubungkan dengan sumber listrik serta jaringan. Setelah itu, tim IT dapat melakukan konfigurasi server, sistem operasi, aplikasi, dan koneksi yang dibutuhkan agar perangkat siap digunakan.

Tahap berikutnya adalah operasional dan pemantauan. Penyedia colocation menjaga lingkungan fisik data center, termasuk pasokan listrik, pendinginan, konektivitas, serta keamanan fasilitas, sementara perusahaan biasanya tetap mengelola perangkat dan sistem yang berjalan di dalam server. Layanan tertentu juga dapat menyediakan bantuan teknis tambahan, seperti monitoring atau remote hands, sesuai paket layanan yang digunakan.

Secara sederhana, alur kerja colocation dapat digambarkan sebagai berikut:

Menentukan kebutuhan → memilih fasilitas colocation → menempatkan server → menghubungkan listrik dan jaringan → melakukan konfigurasi → menjalankan dan memantau server.

Dengan alur tersebut, perusahaan dapat memiliki kontrol terhadap server tanpa harus menyediakan sendiri seluruh fasilitas fisik yang diperlukan untuk mengoperasikannya. Inilah salah satu alasan colocation digunakan oleh bisnis yang membutuhkan infrastruktur server sendiri tetapi ingin mengurangi kebutuhan investasi untuk membangun data center secara mandiri.

Kelebihan dan Kekurangan Colocation

Setelah memahami cara kerjanya, Anda juga perlu mengetahui dampak colocation terhadap operasional bisnis. Model ini memberikan pembagian tanggung jawab yang cukup jelas antara pemilik server dan penyedia fasilitas data center.

Dari sisi investasi, colocation dapat mengurangi kebutuhan perusahaan untuk membangun ruangan server sendiri beserta sistem pendukungnya. Anda dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia tanpa harus menyediakan sendiri sistem kelistrikan, pendinginan, keamanan fisik, dan konektivitas dalam skala data center.

Di sisi lain, penggunaan colocation tidak membuat seluruh pekerjaan pengelolaan server berpindah kepada penyedia. Anda tetap perlu mempertimbangkan pengelolaan hardware, sistem operasi, aplikasi, keamanan server, pemeliharaan, dan kebutuhan ekspansi sesuai tanggung jawab yang tercantum dalam layanan.

Kelebihan Colocation

Beberapa kelebihan colocation yang dapat Anda pertimbangkan adalah:

  • Efisien, Anda tidak perlu membangun fasilitas fisik beserta seluruh infrastruktur pendukungnya dari awal.
  • Keamanan tinggi, colocation server dapat dikatakan memiliki tingkat keamanan baik secara fisik maupun non-fisik. Lalu penyedia jasa juga melindungi server 24/7 secara nonstop.
  • Mendukung ekspansi, kapasitas dapat ditambah sesuai kebutuhan dan ketersediaan ruang serta daya.
  • Mendukung kebutuhan konektivitas, server ditempatkan di lingkungan yang memang dirancang untuk mendukung kebutuhan jaringan.
  • Dapat digunakan untuk kebutuhan disaster recovery, infrastruktur di lokasi colocation dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan ketika terjadi gangguan pada lokasi utama.

Kekurangan Colocation

Colocation tetap memiliki beberapa kekurangan yang perlu Anda perhitungkan. Karena server umumnya merupakan milik perusahaan, Anda masih bertanggung jawab terhadap pengadaan, konfigurasi, pemeliharaan, dan penggantian perangkat keras sesuai kebutuhan.

Anda juga perlu memperhitungkan akses ke perangkat. layanan ini biasanya hanya tersedia di beberapa kota besar saja. Hal ini tentu akan merepotkan pihak penyewa karena perlu melakukan perjalanan jika lokasi penyewa jauh dari lokasi penyedia.

8+ Tips Memilih Penyedia Layanan Colocation Server – Exabytes
8+ Tips Memilih Penyedia Layanan Colocation Server – Exabytes

Apa Itu Hyperscale Data Center?

Ilustrasi Hyperscale Data Centre
Ilustrasi Hyperscale Data Centre

hdata center adalah fasilitas data center berskala sangat besar yang dirancang untuk menangani beban kerja dengan kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan jaringan yang tinggi. Konsep hyperscale menekankan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas dengan menambahkan sumber daya baru secara horizontal, bukan hanya meningkatkan kemampuan satu server yang sudah ada.

Karena menggunakan pendekatan tersebut, lingkungan hyperscale biasanya terdiri dari banyak server dan komponen yang bekerja sebagai satu lingkungan terdistribusi. Infrastruktur ini dirancang agar penambahan kapasitas dapat dilakukan secara modular seiring meningkatnya kebutuhan.

Tidak ada satu ukuran yang menjadi standar universal untuk menyebut sebuah data center sebagai hyperscale. Mengutip dari IBM Corporation (International Business Machines), menyebut hyperscale data center paling minimum harus berisi setidaknya 5.000 server dan setidaknya 10.000 kaki persegi untuk ruang fisik, dan memasok konsumsi energi lebih dari 100MW.

Bagaimana Cara Kerja Hyperscale?

Pada arsitektur hyperscale, server tidak diperlakukan sebagai perangkat yang berdiri sendiri. Banyak server, storage, dan perangkat jaringan digabungkan ke dalam lingkungan terdistribusi sehingga beban kerja dapat dibagi ke berbagai sumber daya yang tersedia.

Ketika kebutuhan komputasi meningkat, kapasitas dapat ditambah dengan memasukkan server atau kelompok infrastruktur baru ke dalam lingkungan tersebut. Pendekatan horizontal ini membuat pertumbuhan kapasitas dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur yang sudah digunakan.

Pengelolaan lingkungan tersebut juga sangat bergantung pada perangkat lunak dan otomatisasi. Sistem dapat membantu mendistribusikan beban kerja, mengelola sumber daya, serta mengalihkan pekerjaan ketika terjadi kegagalan pada komponen tertentu.

Karena kemampuan skalanya, hyperscale banyak digunakan untuk kebutuhan seperti cloud computing, AI, analitik data, pemrosesan data dalam jumlah besar, penyimpanan skala besar, dan aplikasi dengan pertumbuhan trafik yang tinggi.

Kelebihan dan Kekurangan Hyperscale

Kelebihan utama hyperscale terletak pada kemampuannya untuk menangani pertumbuhan workload dalam skala besar. Ketika kebutuhan meningkat, kapasitas dapat ditambahkan secara bertahap melalui server atau kelompok infrastruktur baru.

Pendekatan ini juga memungkinkan otomatisasi pengelolaan sumber daya. Dengan jumlah server yang sangat banyak, pengelolaan secara manual akan menjadi tidak efisien sehingga perangkat lunak memiliki peran penting dalam distribusi workload, monitoring, dan pengelolaan kapasitas.

Namun, skala besar juga membawa konsekuensi. Infrastruktur hyperscale membutuhkan fasilitas, daya listrik, pendinginan, jaringan, perangkat keras, sistem otomatisasi, dan kemampuan operasional yang kompleks sehingga investasi dan pengelolaannya tidak sederhana.

Kelebihan Hyperscale

Beberapa kelebihan hyperscale meliputi:

  • Skalabilitas tinggi, karena kapasitas komputasi, penyimpanan, dan jaringan dapat diperbesar maupun diperkecil.
  • Mampu menangani workload besar, dengan arsitektur yang memadai, hyperscale data center mampu membagi beban kerja ke banyak sumber. Bahkan, pusat data ini mampu melakukan AI analitik, pemrosesan data dalam jumlah besar, dan berbagai beban kerja berat lainnya.
  • Keandalan uptime, hyperscale dibekali sistem cadangan yang berlapis untuk mencegah berbagai gangguan, kemampuan ini menjadikannya sebagai layanan yang dapat tetap aktif
  • Mendukung pertumbuhan cepat, terutama untuk layanan digital dengan kebutuhan komputasi yang terus berubah.

Kekurangan Hyperscale

Hyperscale membutuhkan investasi dan perencanaan yang besar, terutama jika perusahaan ingin membangun dan mengoperasikan fasilitasnya sendiri. Kebutuhan lahan, listrik, pendinginan, jaringan, perangkat keras, dan keamanan dapat meningkat seiring bertambahnya kapasitas.

Kompleksitas operasional juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Semakin banyak komponen yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan monitoring, otomatisasi, pemeliharaan, keamanan, serta tenaga ahli untuk mengelolanya.

Kekurangan lainnya juga dapat dilihat dari dampak lingkungan yang ditimbulkan. Hyperscale data center meninggalkan jejak karbon yang tinggi akibat penggunaan energi yang besar.

Colocation vs Hyperscale Data Center, Apa Perbedaannya?

Pada dasarnya, colocation vs hyperscale tidak sepenuhnya merupakan perbandingan antara dua jenis layanan yang setara. Colocation menjelaskan model penggunaan fasilitas data center, sedangkan hyperscale menjelaskan karakteristik skala dan arsitektur infrastruktur.

Artinya, sebuah perusahaan dapat menggunakan layanan colocation untuk menempatkan servernya tanpa harus membangun data center sendiri. Di sisi lain, operator colocation juga dapat memiliki fasilitas dengan kapasitas besar. Karena itu, colocation dan hyperscale dapat berada dalam satu ekosistem yang dapat saling mengisi.

Perbedaan keduanya akan lebih mudah dipahami jika dilihat dari beberapa aspek berikut:

Aspek Colocation Hyperscale
Konsep Model penempatan server pada fasilitas data center pihak ketiga Pendekatan arsitektur dan skala infrastruktur yang sangat besar
Fokus utama Penyediaan ruang dan fasilitas pendukung untuk server Skalabilitas, otomatisasi, dan pengelolaan workload dalam jumlah besar
Kepemilikan server Umumnya tetap berada pada pelanggan Bergantung pada model pengelolaan infrastrukturnya
Infrastruktur fisik Disediakan dan dikelola operator fasilitas Dirancang untuk mendukung kapasitas dan ekspansi yang sangat besar
Skalabilitas Mengikuti ketersediaan ruang, daya, jaringan, dan layanan Dirancang untuk ekspansi horizontal melalui penambahan sumber daya
Kontrol hardware Pelanggan umumnya memiliki kontrol terhadap server sendiri Sangat bergantung pada pemilik dan model infrastrukturnya
Investasi awal Tidak perlu membangun data center sendiri Sangat besar jika fasilitas hyperscale dibangun secara mandiri
Pengelolaan Tanggung jawab terbagi antara pelanggan dan operator Membutuhkan otomatisasi dan kemampuan operasional berskala besar
Kebutuhan umum Server perusahaan, aplikasi, private infrastructure, backup AI, cloud computing, big data, analitik, dan workload berskala besar
Fokus bisnis Mendapatkan fasilitas data center tanpa membangun sendiri Menyediakan kapasitas komputasi dan penyimpanan yang dapat berkembang sangat besar

Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa perbedaan paling mendasar terletak pada fokusnya. Colocation menjawab kebutuhan “di mana server ditempatkan dan siapa yang menyediakan fasilitasnya?”, sedangkan hyperscale lebih menjawab “bagaimana infrastruktur dapat menangani workload dalam skala sangat besar dan terus berkembang?”

Colocation vs Hyperscale Data Center, Mana yang Sesuai untuk Bisnis Anda?

Menentukan model yang sesuai sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis Anda. Jika Anda memiliki server sendiri dan membutuhkan fasilitas data center profesional tetapi tidak ingin membangun ruangan server beserta seluruh infrastrukturnya, colocation dapat menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.

Sementara itu, apabila bisnis Anda menangani workload dengan skala sangat besar dan membutuhkan penambahan kapasitas secara terus-menerus, konsep hyperscale dapat menjadi pertimbangan. Pendekatan ini membutuhkan arsitektur, otomatisasi, jaringan, penyimpanan, daya, dan sistem operasional yang mampu mendukung pertumbuhan tersebut.

Namun, Anda tidak harus membangun fasilitas hyperscale sendiri untuk mendapatkan lingkungan data center yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Model colocation memungkinkan Anda menempatkan server pada fasilitas data center yang telah memiliki infrastruktur pendukung, sehingga perusahaan dapat mempertahankan kepemilikan dan kontrol terhadap server tanpa membangun seluruh fasilitas dari awal.

Kapan Mempertimbangkan Colocation?

Colocation dapat dipertimbangkan jika Anda memiliki kebutuhan seperti:

  • Membutuhkan server fisik sendiri dengan kontrol hardware yang tinggi.
  • Tidak memiliki ruang atau fasilitas yang memadai untuk server di kantor.
  • Tidak ingin membangun data center sendiri.
  • Membutuhkan lingkungan dengan listrik, pendinginan, jaringan, dan keamanan fisik yang lebih terstruktur.
  • Membutuhkan infrastruktur tambahan untuk backup atau disaster recovery.
  • Menginginkan kapasitas server yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

Untuk kebutuhan tersebut, Exabytes menyediakan layanan Colocation Server yang dapat membantu bisnis menempatkan server pada fasilitas data center tanpa harus menyediakan seluruh infrastruktur pendukung secara mandiri.

Kapan Mempertimbangkan Hyperscale?

Pendekatan hyperscale lebih berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur dalam skala sangat besar. Anda dapat mempertimbangkannya ketika workload terus berkembang, membutuhkan kapasitas komputasi tinggi, dan penambahan sumber daya perlu dilakukan secara horizontal.

Contohnya adalah kebutuhan pemrosesan data dalam jumlah sangat besar, aplikasi dengan pertumbuhan pengguna tinggi, AI dan machine learning, analitik data, serta layanan digital yang membutuhkan kapasitas komputasi elastis.

Jika kebutuhan Anda belum mencapai skala tersebut, membangun lingkungan hyperscale secara mandiri tentu membutuhkan pertimbangan investasi dan operasional yang jauh lebih besar. Dalam kondisi tertentu, menggunakan fasilitas data center pihak ketiga dapat menjadi pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya perusahaan.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan

Sebelum menentukan pilihan, evaluasi beberapa faktor berikut:

  1. Jumlah dan Spesifikasi Server: Tentukan berapa banyak server yang digunakan dan bagaimana kebutuhannya akan berkembang.
  1. Kebutuhan Daya: Perhitungkan konsumsi listrik perangkat saat ini serta kebutuhan ekspansi.
  1. Pertumbuhan Workload: Perkirakan apakah kebutuhan komputasi akan bertambah secara bertahap atau meningkat dalam skala besar.
  1. Kontrol Terhadap Hardware: Jika perusahaan perlu menentukan sendiri perangkat dan konfigurasi server, kepemilikan hardware menjadi faktor penting.
  1. Anggaran: Perhitungkan bukan hanya biaya awal, tetapi juga listrik, pendinginan, jaringan, pemeliharaan, keamanan, perangkat, dan ekspansi.
  1. Konektivitas: Pastikan kapasitas dan kualitas koneksi sesuai dengan kebutuhan aplikasi serta trafik bisnis.
  1. Keamanan dan Akses Fisik: Perhatikan bagaimana fasilitas melindungi server dan bagaimana prosedur akses ke perangkat diterapkan.
  1. Kemampuan Ekspansi: Pastikan model yang dipilih dapat mengikuti pertumbuhan kebutuhan bisnis tanpa menyebabkan perubahan infrastruktur yang terlalu besar.

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, Anda dapat melihat bahwa pemilihan infrastruktur bukan hanya persoalan colocation vs hyperscale. Yang lebih penting adalah mencocokkan model infrastruktur dengan kebutuhan workload, kontrol perangkat, kapasitas, anggaran, dan arah pertumbuhan bisnis.

Kesimpulan

Colocation vs hyperscale memiliki fokus yang berbeda. Colocation merupakan model penempatan server milik perusahaan pada fasilitas data center pihak ketiga, sedangkan hyperscale merupakan pendekatan arsitektur dan operasional yang dirancang untuk menangani workload dalam skala sangat besar dengan kemampuan ekspansi horizontal.

Bagi Anda yang membutuhkan colocation, Colocation Server Exabytes menyediakan pilihan mulai dari 1U, 2U, 5U, Quarter Rack, Half Rack, hingga Full Rack untuk menyesuaikan kebutuhan perangkat. Layanannya didukung data center Tier 3, koneksi langsung ke IIX, bandwidth lokal dan internasional, DDoS Mitigation, kontrol suhu HVAC, monitoring jaringan 24x7x365, dukungan pelanggan 24×7, serta bantuan teknis untuk kebutuhan seperti pengecekan kondisi server, reboot, dan penggantian kabel.

Jika Anda membutuhkan tempat yang lebih terstruktur untuk menempatkan server fisik tanpa membangun seluruh fasilitas data center sendiri, pertimbangkan Colocation Server Exabytes sesuai kebutuhan kapasitas dan perangkat Anda. Pelajari pilihan paket dan fasilitas yang tersedia, lalu pilih konfigurasi colocation yang paling sesuai dengan kebutuhan infrastruktur bisnis Anda.

FAQ

Colocation server adalah model penempatan server milik perusahaan di fasilitas data center pihak ketiga. Sementara itu, hyperscale data center merupakan infrastruktur berskala sangat besar yang dirancang untuk menangani workload tinggi dan meningkatkan kapasitas secara horizontal. Jadi, colocation lebih berfokus pada tempat dan fasilitas server, sedangkan hyperscale berfokus pada skala, arsitektur, dan kemampuan ekspansi infrastruktur.

Tidak selalu. Biaya colocation dan cloud bergantung pada kebutuhan sumber daya, kapasitas, durasi penggunaan, bandwidth, perangkat keras, serta layanan tambahan yang digunakan. Colocation dapat mengurangi investasi awal untuk membangun data center sendiri karena perusahaan menyewa fasilitas yang sudah tersedia, tetapi biaya kepemilikan server dan pengelolaannya tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, perbandingan sebaiknya dilakukan berdasarkan total cost of ownership (TCO), bukan hanya biaya bulanan.

.

Salah satu tantangan utama hyperscale data center adalah kompleksitas dan besarnya kebutuhan infrastruktur. Fasilitas berskala besar membutuhkan kapasitas listrik, pendinginan, jaringan, keamanan, perangkat keras, otomatisasi, serta tenaga ahli yang memadai. Semakin besar infrastrukturnya, semakin penting pula pengelolaan daya, kapasitas, keandalan, dan operasional secara efisien.

Pada colocation, perusahaan biasanya tetap memiliki dan mengelola server serta perangkat IT yang ditempatkan di data center. Penyedia colocation bertanggung jawab atas fasilitas fisik seperti ruang server, listrik, pendinginan, konektivitas, dan keamanan fasilitas sesuai cakupan layanan. Pada hyperscale, kepemilikan dan pengelolaan dapat berbeda tergantung model infrastrukturnya, tetapi pengoperasiannya umumnya membutuhkan otomatisasi dan pengelolaan sumber daya dalam skala besar.