Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu

179
11 min read

Apabila Exabytes Friends saat ini sedang mengelola sebuah website atau blog, maka kalian dapat memperoleh tambahan pundi-pundi rupiah melalui monetisasi iklan (Google Adsense). Monetisasi iklan adalah sebuah metode yang digunakan untuk menghasilkan uang dari iklan yang terpasang pada konten kita. 

Atau jika Exabytes Friends memiliki sebuah produk dan ingin meningkatkan konversi penjualannya, maka dapat menggunakan sebuah strategi content marketing dan pemasangan iklan melalui Facebook Ads dan Google Ads.

Namun jika saat ini kalian merasa strategi iklan yang dijalankan tidak mendorong hasil penjualan yang maksimal? Maka kemungkinan target audiens kalian sedang mengalami Ads Fatigue. Beruntungnya, Ads Fatigue masih bisa diatasi melalui beberapa cara dan metode tertentu. 

Jadi, apa itu Ads Fatigue dan bagaimana cara mengatasinya? Silakan simak uraian terperinci pada artikel kali ini untuk menemukan jawabannya, ya!

Apa Itu Ads Fatigue?

Ads Fatigue
Ketika campaign atau Ads kalian sudah mulai mengalami penurunan engagement, maka hal tersebut dapat menjadi pertanda Ads Fatigue. (Sumber: ShutterStock)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Fatigue” adalah sebuah keadaan ketika mengalami kebosanan, kejenuhan, kejerihan, atau kelelahan. Sehingga secara harfiah, Ads Fatigue dapat diartikan sebagai kondisi di mana audiens atau target pelanggan kalian terlalu sering melihat iklan sehingga mereka mulai bosan dan kehilangan minat.

Dampak nyata yang mungkin dirasakan oleh brand ketika fenomena Ads Fatigue meningkat adalah angka CTR (Click Through Rate) menurun. Angka CTR yang menurun tersebut dapat menyebabkan penurunan ROI (Return of Investment) secara signifikan, engagement rate menjadi rendah, efektivitas campaign tidak berjalan normal, serta konversi penjualan pun tersungkur jatuh. 

So, Exabytes Friends sudah dapat membayangkan bukan dampak fatal yang bisa terjadi jika Ads Fatigue tidak segera ditangani.

Selain itu, terjadinya Ads Fatigue juga dapat berimbas terhadap Marketing Funnel. Marketing Funnel yaitu konsep yang menjelaskan tahap dan proses yang mungkin dilalui oleh pelanggan ketika mereka akan melakukan pembelian produk. Marketing Funnel sangat mempengaruhi conversion rate (nilai konversi penjualan) karena dapat mengidentifikasi penyebab calon pelanggan membatalkan pembelian. 

Marketing Funnel terdiri dari beberapa funnel, yaitu Awareness, Consideration, Purchase, Retention, dan Advocacy. Jika terjadi Ads Fatigue, maka kemungkinan pelanggan bisa menjadi tidak tertarik dengan iklan sehingga tidak dapat masuk ke level funnel selanjutnya.

Oleh karena itu, sangat penting bagi sebuah brand untuk terus memantau dan memahami perkembangan strategi iklan guna menghindari Ads Fatigue.

Tanda dan Ciri Terjadinya Ads Fatigue 

Bagi Exabytes Friends yang masih gundah dan bingung mengenai cara mendeteksi Ads Fatigue, maka berikut akan dipaparkan beberapa tanda umum jika audiens kalian mulai mengalami kebosanan iklan.

Angka CTR Untuk Iklan yang Rendah

angka CTR rendah
Rendahnya angka CTR dapat menjadi salah satu pertanda Ads Fatigue. (Sumber: ShutterStock)

Click Through Rate (CTR) adalah salah satu digital marketing metric yang berfungsi untuk mengukur perbandingan antara jumlah klik terhadap impresi dari halaman website yang dijadikan target penjualan.

Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu - 2022

Rumus perhitungan CTR: (Total Clicks / Impressions) x 100% 

Angka CTR dari sebuah iklan dalam periode waktu ke waktu dapat dijadikan pertimbangan untuk mendeteksi Ads Fatigue. Jika seiring berjalannya waktu angka CTR terus menerus menurun, maka dapat dipastikan audiens kalian mengalami Ads Fatigue.

Grafik CTR yang terus menurun juga dapat menjadi tanda jika strategi pemasaran yang dijalankan kurang efektif. Kalian bisa melakukan evaluasi dengan mencoba berbagai metode pemasaran digital lainnya seperti Video Marketing, Digital Ads (Facebook Ads dan Google Ads), Email Marketing, dan lainnya.

Apabila perusahaan bisnis kalian bergerak di bidang e-commerce, maka angka CTR >2% sudah dianggap cukup baik. Karena berdasarkan data yang dihimpun oleh SimilarWeb, rata-rata CTR untuk Ads pada e-commerce adalah 1.66%. 

Bounce Rate Tinggi

Sama seperti CTR, Bounce Rate juga merupakan salah satu digital marketing metric. Bounce Rate adalah sebuah nilai yang mengukur persentase pengunjung yang langsung meninggalkan halaman website tanpa mengeksplor atau melakukan apa pun. 

Jika halaman penjualan pada website kalian mengandung iklan dan ternyata Bounce Rate untuk halaman tersebut sangat tinggi, maka bisa dipastikan jika pengunjung website mengalami Ads Fatigue. 

Karena Bounce Rate yang tinggi menandakan pengunjung tidak betah untuk berlama-lama di website. Hal tersebut dapat dikarenakan konten yang disediakan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, UI/UX tidak user-friendly, kecepatan load website lambat, hingga iklan yang ditayangkan cenderung membosankan dan membuat jenuh. 

Akibatnya, jika angka Bounce Rate melambung tinggi, maka dapat berimbas pula pada proses akuisisi Leads yang menurun. Dampaknya dapat dirasakan pada konversi penjualan yang kecil, sehingga profit yang didapat perusahaan pun menurun drastis. 

Impresi Iklan yang Rendah 

Impresi adalah metrik yang digunakan untuk mengukur jumlah tayangan dari sebuah iklan. Jika angka impresi tinggi, maka iklan yang ditampilkan menarik dan telah dilihat oleh banyak pengunjung.

Impresi juga masih memiliki kaitan dengan CTR. Di mana jika angka impresi kecil, maka otomatis angka klik pun juga kecil sehingga CTR menurun. Oleh karena itu, jika iklan yang kalian pasang pada website atau media sosial memiliki impresi yang minim, bisa dipastikan bahwa Ads Fatigue mungkin terjadi. 

Impresi yang rendah juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur minimnya interaksi yang dilakukan audiens dengan konten iklan yang terpasang. Hal tersebut menjadi indikasi jika audiens sudah mulai bosan atau jenuh dengan konten iklan yang itu-itu saja. 

Interaksi (Engagement) Pada Konten Iklan Sangat Sepi

Jika Exabytes Friends bekerja atau pernah menggeluti dunia digital marketing, maka tentunya sudah tak asing lagi dengan istilah “Engagement”. Menurut seorang pakar komunikasi bernama Wilbur Schramm, Engagement dapat diartikan sebagai komunikasi dua arah atau komunikasi interaksional.

Kunci dari komunikasi yang interaktif atau dua arah yaitu adanya umpan balik (feedback) atau tanggapan dan interaksi terhadap konten yang kita terbitkan. Begitu pula dalam menyikapi belantara periklanan. Konten iklan yang baik biasanya memiliki engagement tinggi (interaksi yang dilakukan audiens terhadap konten iklan sangat banyak seperti memberikan likes, share, komentar, bookmark, dan lainnya). 

Nah, Exabytes Friends perlu berhati-hati jika ternyata konten iklan yang diterbitkan hanya mengundang engagement yang sedikit. Karena engagement yang sepi dapat terjadi karena audiens kalian mengalami Ads Fatigue.

Cara Mengatasi Ads Fatigue

Jika saat ini bisnis kalian sedang mengalami Ads Fatigue, maka diperlukan langkah yang cepat, tepat, dan efektif untuk mengatasinya. Apabila tidak segera diatasi, maka akan berdampak buruk pada keberlangsungan bisnis kalian ke depannya. 

Menerapkan Konsep Psikologi Marketing Pada Iklan

Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu - 2022
Menerapkan strategi Psikologi Marketing dianggap mampu menyelesaikan peristiwa Ads Fatigue. (Sumber: ShutterStock)

Jika kalian ingin menarik perhatian audiens, maka sebaiknya kenali dan pahami audiens kalian. Salah satu cara untuk mempelajari dan memahami audiens guna memaksimalkan strategi pemasaran adalah melalui Psikologi Marketing. 

Psikologi Marketing adalah salah satu cabang ilmu psikologi untuk memahami kebiasaan konsumen saat mereka memutuskan untuk membeli produk. Dengan menerapkan konsep Psikologi Marketing, maka perusahaan akan lebih mudah untuk mengetahui behaviour dari konsumen mereka dan menyesuaikannya dengan strategi iklan.

Sebagai contoh, perusahaan yang bergerak di bidang fashion menerapkan strategi Psikologi Marketing dan mengetahui jika konsumen mereka memiliki kebiasaan untuk menggunakan e-wallet sebagai metode pembayaran ketika melakukan transaksi. Nah, dengan memahami behaviour tersebut, perusahaan dapat membuat materi iklan yang memberikan promo produk jika membayar melalui e-wallet.

Beberapa strategi yang termasuk Psikologi Marketing adalah social proof (memanfaatkan testimoni dan review untuk menarik konsumen baru), decoy effect (menyediakan tiga pilihan harga dalam iklan), charm price (menggunakan angka 9 pada bagian belakang harga produk), dan lainnya. 

Ubah Dominasi Warna Pada Iklan Secara Berkala

Tak dapat dipungkiri lagi jika manusia adalah makhluk visual. Oleh karena itu, agar audiens kalian tidak cepat bosan dan jenuh, buatlah beberapa variasi background warna iklan untuk diterapkan bergantian secara rutin. 

Pembaharuan warna pada iklan dapat memberikan kesan yang otentik, tidak monoton, fresh, dan tidak mainstream. Kalian juga dapat menyesuaikan background warna iklan dengan target audiens masing-masing.

Semisal jika target audiens kalian adalah perempuan muda, maka dapat menggunakan warna-warna pastel yang kalem, earthy, dan unik seperti Lilac, Sage Green, Pink Nude, dan lainnya. Warna yang disukai oleh target audiens dapat mendorong mereka untuk melihat iklan lebih lama bahkan melakukan pembelian.

Memantau Ads Campaign Secara Berkala

Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu - 2022
Tim marketing harus rajin memantau pergerakan Ads Campaign agar Ads Fatigue dapat dihindari. (Sumber: ShutterStock)

Saat ini telah hadir banyak tools analytics seperti Google Analytics, Google Ads Manager, Hotjar, dan lainnya. Nah, kehadiran tools-tools tersebut dapat Exabytes Friends manfaatkan untuk memantau campaign ads.

Proses monitoring ads campaign dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa metrik penting (seperti engagement rate, impresi, dan CTR) dari periode waktu ke waktu. Sehingga ketika terjadi anomali atau perubahan yang signifikan pada metrik iklan, kita bisa langsung sigap mengatasinya sebelum terjadi Ads Fatigue.

Selain itu, melalui monitoring ads campaign, kalian juga dapat mengetahui strategi marketing yang tepat untuk dijalankan ke depannya berkaca dari performa dan pencapaian dari periode sebelumnya. Sebagai contoh, setelah memantau strategi iklan yang telah dijalankan satu bulan ke belakang dan melakukan evaluasi, maka strategi selanjutnya yang dapat diimplementasikan adalah Retargeting.

Berbicara mengenai Retargeting, ternyata masih banyak orang awam salah memahami antara Retargeting dan Remarketing. Perbedaan mendasar antara Retargeting vs Remarketing yaitu Retargeting menggunakan Ads berbayar sedangkan Remarketing menggunakan email atau newsletter sebagai media memaksimalkan iklan. 

Menerapkan Copywriting yang Menarik

Copywriting memiliki andil yang sangat besar dalam hal persuasi pembaca. Penggunaan kata-kata yang halus dan tidak terkesan memaksa lebih mampu untuk menghipnotis mereka. Selain itu, menggunakan copywriting yang tepat sasaran pada target audiens serta membubuhkan kata-kata yang sedikit mengandung clickbait akan membuat calon pelanggan penasaran terhadap produk dan ingin mencobanya.

Menjalankan Strategi A/B Testing Pada Iklan

Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu - 2022
A/B Testing terbukti mampu mengatasi rasa bosan uses terhadap iklan yang dipasang perusahaan. (Sumber: ShutterStock)

Agar para audiens tidak merasa bosan dan jenuh terhadap iklan yang itu-itu saja, maka kalian perlu mempelajari behaviour users serta bentuk Ads seperti apa yang lebih disukai oleh mereka.

Nah, untuk mengetahui tipe dan jenis Ads seperti apa yang paling disukai oleh audiens kita, dapat dijalankan sebuah strategi bernama A/B Testing. A/B Testing adalah sebuah strategi untuk membandingkan dua pilihan dari sisi tampilan iklan dan fungsionalitasnya sebelum secara resmi diunggah ke audiens.

Dari beberapa variasi dan opsi iklan yang diuji melalui A/B testing, maka dapat diketahui kira-kira jenis iklan mana yang mampu meningkatkan jumlah pengunjung, memperbesar Leads, serta mengurangi angka Churn Rate. 

Kesimpulan

Mengenal Ads Fatigue: Atasi Audiens Bosan dengan Iklanmu - 2022
Pemahaman terhadap business metrics diperlukan guna menjalankan strategi campaign yang maksimal serta menghindari Ads Fatigue. (Sumber: ShutterStock)

Ketika menjalankan sebuah bisnis, maka iklan dianggap sebagai metode paling ampuh dan efektif untuk meningkatkan konversi penjualan. Namun untuk menjalankan strategi iklan yang optimal, kalian tetap harus kreatif dalam menyusun materi, warna, copywriting, dan target iklan secara berkala. 

Karena materi dan copywriting iklan yang itu-itu saja dapat membuat audiens jenuh dan bosan sehingga menciptakan Ads Fatigue. Ads Fatigue adalah sebuah kondisi di mana audiens atau target pelanggan kalian terlalu sering melihat iklan sehingga mereka mulai bosan dan kehilangan minat. 

Dampak nyata yang mungkin dirasakan oleh brand ketika fenomena Ads Fatigue meningkat adalah angka CTR (Click Through Rate), Leads, Retention Rate, konversi penjualan, dan impresi yang menurun.

Nah, ketika fenomena Ads Fatigue terjadi, maka tim marketing harus segera sigap mengatasinya dengan memperbarui materi, copywriting, serta desain iklan guna disesuaikan dengan preferensi dan ketertarikan audiens atau pembaca.

Melalui pembahasan pada artikel kali ini tentunya Exabytes Friends sudah mulai memahami mengenai seluk beluk Ads Fatigue. Semoga bermanfaat bagi Exabytes Friends, ya! Bagi kalian yang ingin membaca artikel-artikel menarik lainnya mengenai website dan tips pembuatan konten, maka dapat mengunjungi blog Exabytes. Selain itu, Exabytes sebagai perusahaan Google Ads Indonesia juga menyediakan jasa digital marketing dan jasa Google Ads, loh! 

Jangan lupa pula untuk subscribe agar tak ketinggalan konten artikel up-to-date lainnya. Sampai jumpa!

Apakah artikel ini membantu?
YaTidak
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments